Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Jerman, Dipicu Isu Greenland dan Trump

Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Jerman

Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Jerman, Dipicu Isu Greenland dan Trump

Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Jerman
Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Jerman

Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Jerman – Ketegangan geopolitik kembali merembet ke sepakbola. Di Jerman, muncul dorongan agar Piala Dunia 2026 dibahas untuk diboykot, menyusul respons keras Eropa terhadap sikap Presiden AS Donald Trump yang disebut-sebut ingin “mencaplok” Greenland (wilayah otonom Denmark).

Ini bukan sekadar wacana panas di media. Beberapa tokoh sepakbola dan politik Jerman mulai mendorong diskusi serius: apakah ajang sebesar Piala Dunia bisa dijadikan tekanan simbolik untuk merespons isu kedaulatan dan keamanan kawasan.


Apa yang Memicu Seruan Boikot?

Isu bermula dari meningkatnya ketegangan terkait Greenland, wilayah yang punya nilai strategis tinggi. Sejumlah pihak di Eropa menilai pernyataan Trump memperkeruh hubungan transatlantik, apalagi jika dibarengi ancaman kebijakan ekonomi seperti tarif.

Dalam beberapa laporan, kekhawatiran Eropa mencakup beberapa hal berikut:

  • Ancaman tensi diplomatik yang makin tajam antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
  • Tekanan ekonomi berupa ancaman tarif untuk negara yang menolak rencana terkait Greenland.
  • Isu keamanan karena Greenland dinilai berada di titik strategis bagi kawasan Atlantik Utara.

Oke Göttlich: “Diskusinya Harus Dimulai Sekarang”

Salah satu suara yang paling kencang datang dari Oke Göttlich, Presiden klub FC St. Pauli dan figur yang juga berada di lingkaran struktural sepakbola Jerman.

Intinya, ia mendorong agar wacana boikot tidak dianggap tabu. Ia membandingkan dengan era boikot ajang olahraga pada dekade 1980-an, dan menilai ancaman situasi saat ini bisa lebih besar sehingga diskusi harus dilakukan segera.

 

Baca Juga : Arbeloa Disebut Minta Trent Alexander-Arnold Tinggalkan Real Madrid, Ini Duduk Perkaranya

 

Namun perlu digarisbawahi: ini masih dorongan untuk membuka pembahasan, bukan keputusan final federasi.


Jürgen Hardt: Boikot Opsi Terakhir, Tapi Bisa Jadi Tekanan

Dari ranah politik, politisi Jerman Jürgen Hardt menyebut boikot sebagai opsi “terakhir” yang dapat dipertimbangkan bila diperlukan untuk memberi sinyal kuat kepada Trump soal sensitivitas isu Greenland.

Artinya, wacana boikot di sini tidak otomatis berarti “mundur dari Piala Dunia”. Lebih tepat disebut sebagai alat tekanan yang mulai dibahas, seiring kondisi geopolitik yang memanas.


Kenapa Greenland Jadi Isu Besar?

Greenland bukan sekadar pulau bersalju yang cantik di peta. Dalam kalkulasi geopolitik, wilayah ini punya nilai strategis, terutama terkait keamanan kawasan dan kepentingan negara-negara besar.

Itulah sebabnya isu Greenland cepat memicu reaksi keras, terutama dari Eropa dan Denmark. Bagi mereka, ini bukan cuma soal pernyataan politik, tapi soal kedaulatan dan stabilitas kawasan.


Apakah Piala Dunia 2026 Benar-Benar Akan Diboykot?

Untuk saat ini: belum ada keputusan resmi.

Yang terjadi sejauh ini adalah:

  • Muncul wacana boikot dari tokoh tertentu di Jerman.
  • Ada dorongan diskusi di ruang publik.
  • Belum ada pengumuman resmi dari federasi seperti DFB terkait langkah boikot.

Boikot Piala Dunia adalah langkah ekstrem. Dampaknya bisa luas: bukan hanya ke tuan rumah, tetapi juga ke pemain, federasi, sponsor, hingga suporter. Karena itu, meskipun wacananya ramai, jalurnya masih panjang.


Ringkasnya

  • Seruan boikot Piala Dunia 2026 mulai menguat di Jerman, dipicu isu Greenland dan ketegangan dengan Trump.
  • Nama yang paling disorot: Oke Göttlich (FC St. Pauli) dan Jürgen Hardt (politikus Jerman).
  • Status saat ini masih wacana dan dorongan diskusi, belum keputusan resmi.

Situasi bisa bergerak cepat, tergantung bagaimana hubungan diplomatik AS–Eropa berkembang dan bagaimana federasi sepakbola merespons tekanan publik.

Beritabola

Penulis Profesional dan SEO Specialist Untuk beritabolabaru.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *