Simon Tahamata Soroti Ramainya Pemain Naturalisasi di Super League: “Jangan Jadi Contoh Buruk untuk Anak-anak”

Simon Tahamata Soroti Ramainya Pemain Naturalisasi di Super League – Fenomena pemain naturalisasi dan diaspora Timnas Indonesia yang kini merapat ke Super League Indonesia memunculkan banyak perbincangan. Mulai dari Thom Haye, Eliano Reijnders, Jordi Amat, Mauro Zijlstra, Shayne Pattynama, Dion Markx, Jens Raven, hingga Rafael Struick disebut memilih melanjutkan karier di kompetisi domestik.
Kepindahan ini memantik spekulasi publik. Sebagian pihak menduga keputusan tersebut berkaitan dengan peluang tampil reguler dan akses yang lebih mudah untuk dipantau, terutama menjelang agenda penting seperti Piala AFF 2026.
Respons Simon Tahamata: Fokus pada Dampak dan Teladan
Kepala Pemandu Bakat (Head of Scouting) Timnas Indonesia, Simon Tahamata, tidak menyoroti isu ini dari sisi gosip pemanggilan semata. Ia menekankan satu hal yang lebih krusial: pemain-pemain yang tampil di Super League akan dilihat dan ditiru anak-anak yang sedang belajar sepak bola.
Dalam pernyataannya di GBK Arena, Jumat (13/2/2026), Simon menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya punya sumber daya talenta yang besar. Namun, pembinaan usia dini harus dijaga, termasuk dari sisi contoh perilaku para pemain senior.
“Naturalisasi campur dengan timnas di sini. Sekali lagi, Indonesia besar ada banyak bakat di sini. Sekarang saya mau memberi pesan kepada pelatih-pelatih yang mulai dengan anak-anak muda,” kata Simon.
“Saya ajak mereka main bola, mereka mempengaruhi anak-anak 12, 13 (tahun). Jangan sampai mereka lihat contoh tidak bagus,” sambungnya.
Kenapa Ramainya Diaspora ke Super League Jadi Perhatian?
Dari sudut pandang pengembangan tim nasional, banyak pihak sebelumnya berharap para pemain diaspora tetap bertahan di Eropa agar terbiasa dengan intensitas tinggi, kultur profesional, dan persaingan ketat. Saat beberapa nama memilih pulang, pertanyaannya jadi melebar: apakah ini langkah strategis untuk menit bermain, atau sekadar jalur “paling aman” agar terus dekat dengan radar Timnas?
Baca juga : John Herdman Antusias Sambut Piala AFF 2026: “Turnamen Regional Selalu Punya Gairah Besar”
“Indonesia Tidak Kekurangan Bakat”: Pesan untuk Pembinaan Usia Dini
Simon Tahamata menegaskan sikapnya yang konsisten: ia lebih percaya pada pembangunan fondasi dari bawah. Menurutnya, Indonesia besar dan punya banyak “paket” pemain, artinya talenta tersedia, tinggal sistem pembinaannya yang harus serius dan berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan pesan kuat bahwa pelatih-pelatih yang bekerja dengan anak muda memegang peran penting dalam masa depan Timnas. Di sinilah ia mengkritik ketergantungan berlebihan terhadap naturalisasi jika sampai membuat pembinaan lokal stagnan.
“Melatih dengan anak-anak, kita punya masa depan juga untuk bermain di tim nasional. Contoh naturalisasi semua. Kalau saya, saya akan cari anak-anak di sini. Karena di sini ada banyak paket. Indonesia besar, ya,” tegasnya.
Inti Pandangan Simon: Naturalisasi Boleh, Tapi Jangan Mematikan Jalur Lokal
Pernyataan Simon bisa dibaca sebagai sinyal arah kerja scouting Timnas: naturalisasi bukan tujuan utama, melainkan salah satu opsi, sementara talenta lokal harus tetap jadi prioritas jangka panjang.
Jika pemain diaspora memilih bermain di Super League, Simon menilai hal itu harus dibarengi dengan tanggung jawab: tampil profesional, menjaga sikap, dan menjadi contoh yang tepat. Sebab, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya hasil pertandingan, tetapi juga budaya sepak bola yang sedang dibangun dari level akar rumput.
